
Dari mana harus memulai?
Mari kita mulai dari "terbang", aktivitas yang sering dibutuhkan saat bepergian.
01 Input Berbasis Node
Karena intensitas perjalanan dinas yang tinggi, setiap tahun saya menghabiskan banyak waktu di pesawat. Selama perjalanan mengejar ilmu pengetahuan secara global, waktu terbang bahkan lebih lama lagi.
Oleh karena itu, selain untuk istirahat yang penting, waktu-waktu ini biasanya saya manfaatkan untuk membaca. Di ketinggian sepuluh ribu meter, tanpa WeChat maupun panggilan telepon, sangat cocok untuk menyelami buku-buku yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Tapi bagaimana cara menyelaminya?
Banyak orang membaca dengan metode "membaca linear". Seperti mendengarkan kaset, dari lagu pertama sisi A hingga lagu terakhir sisi B. Pengetahuan masuk ke otak secara berurutan.
Cara ini sangat sesuai dengan kebiasaan alami manusia. Namun juga menimbulkan satu masalah: sulitnya pencarian ulang. Saat Anda ingin mencari kembali bagian tertentu dari pengetahuan tersebut, Anda mungkin harus melalui urutan yang sama lagi.
Karena itu, saya lebih suka menggunakan metode lain yang disebut "input berbasis node".
Apa itu input berbasis node?
Sederhananya, yaitu tidak lagi melihat pengetahuan dalam sebuah buku sebagai garis lurus yang kontinu, melainkan sebagai jaringan yang terdiri dari banyak node pengetahuan. Tugas saya bukan menghafal seluruh jaringan tersebut, melainkan mengidentifikasi node-node bernilai saat membaca. Kemudian memberi tanda dan menyimpannya ke dalam "otak kedua" saya.
Karena yang benar-benar penting bukanlah apa yang pernah Anda baca, melainkan apa yang bisa Anda bangkitkan kembali.
Rasanya seperti memasuki hutan. Setiap kali bertemu pohon yang menarik, segera keluarkan alat pelacak GPS, catat koordinat tepatnya, ambil foto ciri utamanya, bahkan tambahkan sedikit refleksi pribadi. Lalu simpan "paket data" ini ke dalam sistem peta pribadi. Sejak saat itu, pohon ini menjadi sebuah node dalam peta pengetahuan yang bisa Anda akses kapan saja.
Di masa depan, ketika Anda membutuhkan pengetahuan ini—misalnya saat menulis artikel atau membuat keputusan—Anda bisa langsung mengambil dan mengombinasikannya dengan cepat.
Misalnya kali ini, dalam penerbangan menuju Amerika Serikat, saya membaca beberapa buku.
Beberapa pandangan tentang AI yang saya temukan sangat menginspirasi.
Lalu, bagaimana cara memberi tanda pada pandangan-pandangan ini sebagai node? Jika berhenti untuk mencatat lewat ponsel atau komputer, aliran pikiran yang fokus akan terganggu. Maka dari itu, saya meraih kartu kecil di balik ponsel, menekannya agak lama. Kartu itu memberi getaran ringan—umpan balik sentuhan yang mengonfirmasi bahwa "saya mulai mendengar". Saya lanjutkan membaca sambil berbicara kepadanya: "Buku ini menyebutkan sebuah pandangan menarik mengenai pengendalian dan penyebaran teknologi. Begini katanya…". Tekan lagi agak lama, getaran muncul—menandakan "baik, telah disimpan". Dengan begitu, proses "memberi tanda node" selesai dilakukan tanpa mengganggu alur pemikiran.
Kartu kecil ini adalah kartu perekam DingTalk A1 yang kami bawa kali ini. Karena sangat tipis dan menempel magnetis di belakang ponsel, rasanya nyaris tak terasa. Port Type-C-nya juga membuat saya tak perlu membawa kabel pengisi daya tambahan.
Sesampainya di tujuan, saya membuka aplikasi DingTalk di ponsel. Catatan suara selama penerbangan sudah tersinkronisasi secara otomatis dan diubah menjadi teks, tenang tersimpan dalam kategori "catatan bacaan". Durasi setiap rekaman juga membantu saya cepat menilai tingkat kompleksitas isinya.
Selanjutnya, saya menulis prompt khusus yang membuat AI berperan sebagai "asisten baca", membantu saya menyusun catatan terstruktur yang mencakup "judul buku, gagasan utama, pemikiran saya, konsep terkait".
We dedicated to serving clients with professional DingTalk solutions. If you'd like to learn more about DingTalk platform applications, feel free to contact our online customer service or email at
Using DingTalk: Before & After
Before
- × Team Chaos: Team members are all busy with their own tasks, standards are inconsistent, and the more communication there is, the more chaotic things become, leading to decreased motivation.
- × Info Silos: Important information is scattered across WhatsApp/group chats, emails, Excel spreadsheets, and numerous apps, often resulting in lost, missed, or misdirected messages.
- × Manual Workflow: Tasks are still handled manually: approvals, scheduling, repair requests, store visits, and reports are all slow, hindering frontline responsiveness.
- × Admin Burden: Clocking in, leave requests, overtime, and payroll are handled in different systems or calculated using spreadsheets, leading to time-consuming statistics and errors.
After
- ✓ Unified Platform: By using a unified platform to bring people and tasks together, communication flows smoothly, collaboration improves, and turnover rates are more easily reduced.
- ✓ Official Channel: Information has an "official channel": whoever is entitled to see it can see it, it can be tracked and reviewed, and there's no fear of messages being skipped.
- ✓ Digital Agility: Processes run online: approvals are faster, tasks are clearer, and store/on-site feedback is more timely, directly improving overall efficiency.
- ✓ Automated HR: Clocking in, leave requests, and overtime are automatically summarized, and attendance reports can be exported with one click for easy payroll calculation.
Operate smarter, spend less
Streamline ops, reduce costs, and keep HQ and frontline in sync—all in one platform.
9.5x
Operational efficiency
72%
Cost savings
35%
Faster team syncs
Want to a Free Trial? Please book our Demo meeting with our AI specilist as below link:
https://www.dingtalk-global.com/contact

Bahasa Indonesia
English
اللغة العربية
Bahasa Melayu
ภาษาไทย
Tiếng Việt
简体中文 