
DEAP itu apa sih? Kedengarannya seperti kode rahasia organisasi misterius atau pesan dari alien? Jangan panik, sebenarnya istilah ini jauh lebih nyata daripada yang kamu kira. DEAP adalah singkatan dari Desirability (Keteringinan), Effectiveness (Efektivitas), Affordability (Keterjangkauan), dan Propriety (Kesesuaian)—empat dimensi penilaian yang terdengar akademis, tapi sangat berbobot. Ini bukan teori hasil khayalan belaka, melainkan kerangka kerja praktis yang terbentuk dari pengalaman panjang dalam berbagai proyek kebijakan dan inovasi sosial.
Bayangkan kamu ingin meluncurkan "toilet umum pintar" dengan fitur penyiraman otomatis, penyemprot aroma otomatis, dan bisa dilaporkan kerusakannya lewat aplikasi. Teknologinya canggih luar biasa, tapi jika petugas kebersihan tidak paham cara mengoperasikannya, atau pemerintah kota tidak punya anggaran untuk mengganti suku cadang setiap tahun, maka semua teknologi itu percuma. DEAP membantu kamu memeriksa secara menyeluruh: "Apakah orang benar-benar menginginkannya?", "Apakah benar-benar efektif?", "Apakah terjangkau?", hingga "Apakah sesuai aturan dan norma?"—agar semangat tinggi tidak berakhir memalukan. Kerangka ini tidak hanya melihat angka, tapi juga memperhatikan sisi manusia; tidak hanya menghitung biaya, tapi juga mempertimbangkan hati nurani. Lain kali saat melihat kebijakan baru di berita, cobalah bertanya diam-diam: apakah kebijakan ini lolos uji empat aspek DEAP?
Keteringinan (Desirability): Apa yang sebenarnya diinginkan orang
Desirability (Keteringinan), terdengar seperti kriteria penilaian kontes kecantikan, padahal pertanyaannya sangat sederhana: "Apa orang benar-benar menginginkannya?" Jangan remehkan tiga kata ini. Banyak kebijakan, proyek, atau aplikasi yang gagal total karena terjebak di tahap ini—teknologi canggih, data bagus, tapi masyarakat berkata, "Saya nggak butuh", ibarat menyajikan hidangan mewah tanpa menanyakan tamu apakah dia vegetarian.
Menilai keteringinan tidak bisa dilakukan dengan firasat atau asumsi seperti "menurut saya mereka pasti suka". Harus turun tangan langsung: sebar kuesioner, adakan kelompok fokus, lakukan wawancara mendalam, bahkan amati langsung bagaimana kakek-nenek menjalani hari-hari mereka. Siapa pengguna utamanya? Siapa yang merasa "ini nggak ada urusannya sama saya"? Siapa yang pura-pura setuju tapi diam-diam protes? Semua suara ini harus didengar. Pernah ada program gelang kesehatan cerdas untuk lansia di sebuah komunitas, lokasinya akurat, alarm cepat respons, tapi para lansia merasa pakai gelang itu seperti dipasangi alat tahanan, dan takut dimata-matai anak-anaknya—teknologinya nilai sempurna, tapi keteringinannya nol besar, akhirnya proyek tersebut gagal total.
Yang paling berbahaya adalah "kesombongan ahli": sekelompok orang berjas duduk rapat di ruang meeting bilang, "Ini yang terbaik buat kalian", tanpa peduli dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ingat, apakah sesuatu diinginkan atau tidak, bukan ditentukan oleh kamu, tapi oleh pengguna lewat tindakan nyata—entah dengan kaki mereka pergi meninggalkan, atau dengan tombol hapus di ponsel mereka.
Efektivitas (Effectiveness): Bisa membuktikan hasil, itu baru hebat
Effectiveness (Efektivitas), kedengarannya seperti orang jujur—tidak sok-sokan, tidak menjanjikan hal muluk, hanya bertanya satu hal: "Kamu benar-benar berhasil atau belum?" Dalam model DEAP, ini datang tepat setelah pertanyaan "Apakah orang menginginkannya?", menarik mimpi kembali ke dunia nyata. Sehebat apa pun keteringinannya, jika efektivitasnya nol, ibarat mengirim pemuda bersemangat dorong batu di gurun pasir: penuh semangat, tapi hasilnya nihil.
Jangan tertipu oleh data gemerlap! Aplikasi pendidikan yang unduhannya mencapai jutaan, tapi nilai ujian siswa tetap tidak berubah, itu namanya "gemuk semu". Efektivitas fokus pada hasil (outcome), bukan output. Mencetak 100 ribu selebaran adalah output, tapi kalau benar-benar membuat orang berhenti merokok, itu baru hasil. Jurang antara keduanya harus dijembatani dengan analisis sebab-akibat—apakah kebijakanmu benar-benar menjadi alasan perubahan, atau hanya kebetulan lewat di tempat yang sama?
Saat itulah desain kelompok kontrol berguna, layaknya eksperimen ilmiah, bandingkan kondisi "ada kamu" dan "tanpa kamu" bedanya di mana. Ditambah indikator kinerja utama (KPI) yang jelas, misalnya "tingkat pengangguran turun 5% dalam enam bulan", baru bisa dikatakan benar-benar efektif, bukan sekadar omong kosong. Ingat: sibuk bukan berarti efektif; yang benar-benar efektif adalah mereka yang membuat hasil berbicara.
Keterjangkauan (Affordability): Uang harus dibelanjakan secara cerdas dan hemat
Affordability (Keterjangkauan), kedengarannya seperti ibu-ibu saat belanja di supermarket: "Merek ini mahal banget, ganti yang lebih murah!" Tapi jangan tertipu penampilan sederhananya—ia adalah akuntan paling jago dalam model DEAP, yang ahli menelanjangi mitos "uang banyak = hasil besar". Efektivitas mengajarkan kita "melakukan hal yang benar", keterjangkauan kemudian menimpali dingin: "Tapi kamu sanggup bayar atau nggak?"
Kata "murah" di sini bukan hanya soal harga di label. Analisis biaya-manfaat (CBA) membantumu mengonversi hasil abstrak ke satuan uang, misalnya berapa biaya yang diperlukan untuk menyelamatkan satu nyawa. Sementara analisis biaya-efektivitas (CEA) membandingkan berbagai solusi dengan tujuan sama, misalnya dua obat penurun tekanan darah dengan efek serupa tapi harga beda tiga kali lipat—orang pintar pasti tahu pilih mana. Belum lagi biaya peluang (opportunity cost)—uang yang digunakan di sini, tidak bisa digunakan di tempat lain. Menghabiskan lima juta untuk satu suntikan, artinya uang itu tidak bisa digunakan untuk membangun setengah perpustakaan.
Waktu, tenaga kerja, pelatihan, perubahan sistem—semua ini adalah tagihan tak kasat mata. Sebuah aplikasi gratis bisa jadi sangat mahal jika karyawan harus menghabiskan dua jam ekstra setiap hari untuk mengoperasikannya. Keterjangkauan memastikan bahwa dalam dunia dengan sumber daya terbatas, setiap rupiah bisa bermakna.
Kesesuaian (Propriety): Etika, keadilan, dan sensitivitas budaya tak boleh diabaikan
Setelah membahas bagaimana uang harus dibelanjakan secara cerdas, kini saatnya membicarakan hal yang lebih "bermakna"—Propriety (Kesesuaian). Ini bukan hal yang muncul di laporan keuangan, tapi justru kunci mengubah kebijakan dari "angka dingin" menjadi "aksi yang bernyawa". Coba pikirkan: menggunakan AI untuk memantau frekuensi ketukan keyboard karyawan sepanjang hari demi menilai produktivitas, mungkin hasil datanya sangat mengesankan dan biayanya rendah, tapi apakah itu berarti cara ini "benar"? Jika karyawan merasa seperti terkurung dalam penjara elektronik, bahkan buang air kecil pun dicurigai sebagai malas kerja oleh algoritma, maka solusi seefisien apa pun tetap merupakan bentuk "tiran teknologi".
Kesesuaian bertanya: apakah hal ini menghormati manusia? Apakah terhindar dari diskriminasi? Apakah selaras dengan nilai-nilai lokal? Contohnya, menerapkan peringkat kinerja individu di komunitas yang menjunjung tinggi harmoni kolektif, meskipun terbukti meningkatkan motivasi, bisa jadi merusak jaringan hubungan sosial. Atau, memaksakan materi edukasi kesehatan tertentu di wilayah religius yang konservatif—secara teknis layak, secara ekonomi terjangkau, tapi melanggar garis merah budaya, hasilnya protes dan penolakan massal. DEAP mengingatkan kita: rasa keadilan tidak bisa diserahkan ke data, garis etika juga tidak boleh dikorbankan demi "tingkat pencapaian target". Karena pada akhirnya, solusi yang kehilangan hati masyarakat akan runtuh dalam sunyi meski awalnya disambut sorak sorai.
We dedicated to serving clients with professional DingTalk solutions. If you'd like to learn more about DingTalk platform applications, feel free to contact our online customer service or email at
Using DingTalk: Before & After
Before
- × Team Chaos: Team members are all busy with their own tasks, standards are inconsistent, and the more communication there is, the more chaotic things become, leading to decreased motivation.
- × Info Silos: Important information is scattered across WhatsApp/group chats, emails, Excel spreadsheets, and numerous apps, often resulting in lost, missed, or misdirected messages.
- × Manual Workflow: Tasks are still handled manually: approvals, scheduling, repair requests, store visits, and reports are all slow, hindering frontline responsiveness.
- × Admin Burden: Clocking in, leave requests, overtime, and payroll are handled in different systems or calculated using spreadsheets, leading to time-consuming statistics and errors.
After
- ✓ Unified Platform: By using a unified platform to bring people and tasks together, communication flows smoothly, collaboration improves, and turnover rates are more easily reduced.
- ✓ Official Channel: Information has an "official channel": whoever is entitled to see it can see it, it can be tracked and reviewed, and there's no fear of messages being skipped.
- ✓ Digital Agility: Processes run online: approvals are faster, tasks are clearer, and store/on-site feedback is more timely, directly improving overall efficiency.
- ✓ Automated HR: Clocking in, leave requests, and overtime are automatically summarized, and attendance reports can be exported with one click for easy payroll calculation.
Operate smarter, spend less
Streamline ops, reduce costs, and keep HQ and frontline in sync—all in one platform.
9.5x
Operational efficiency
72%
Cost savings
35%
Faster team syncs
Want to a Free Trial? Please book our Demo meeting with our AI specilist as below link:
https://www.dingtalk-global.com/contact

Bahasa Indonesia
English
اللغة العربية
Bahasa Melayu
ภาษาไทย
Tiếng Việt
简体中文 